Kemarin pas nonton Idola Cilik di RCTI (salah satu acara tv yg aku suka, jenuh ma sinetron n infotainment, huhhhhh!), terkernyitlah daku (bahasa apa neh..:D) mendengar komentar salah satu komentator kepada salah seorang peserta: “Be Yourself”.
Komentar ini ditujukan ke Siti, kalau gak salah usianya 10 thn, cewek tp kyk cowok, sejak kecil dah jadi petinju untuk mengumpulkan rupiah, demi membantu kluarganya. Kalau ini bener adanya, aku bayangkan dia mungkin hanya “diadu” buat taruhan penontonnya..poor Siti..(semoga tidak benar). Terang saja Siti ini penampilannya tomboy abis. Meski cenderung kurus tp kliatan kekar sekaleee.. (cowok bggt gaya dan penampilan fisiknya). Bagaimana buah dadanya akan tumbuh dengan sempurna dan dia menjadi wanita istimewa kalau tiap hari dihajar di bagian situnya (menurut pengakuan Siti hanya dia seorang yg cewek, jd bayanganku ya aturan tinju khusus cewek yang melarang menjadikan daerah2 tertentu sebagai sasaran baku hantam gak berlaku...hiks.. poor (lagi) Siti.
Nah, pada episode sebelumnya ada salah satu komentator minta dia pakai rok kalau lolos di babak berikutnya. Beda banget dg penampilan sebelumnya, kemarin ntu dia pakai rok untuk memenuhi permintaan komentator. Dan memang Siti kliatan canggung bangets. Lalu terlontarlah komentar “martir” komentator yg lain..untuk “Be Yourself” itu, demi melihat Siti memakai kostum yg dibilangnya “tidak bernyawa” (apa maksudnya, coba?)..hiks-hiks..(lagi-lagi) poor Siti..*hela nafas puanjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang bangets*
BE YOURSELF? Bulshit bggt dah!
Dari cuplikan peristiwa di atas aja krasa..krasa ndak? :-D
Manalah mungkin buah semangka berdaun sirih, manalah bisa kita menjadi diri sendirih? :-P
Kalau “Be Yourself” maksudnya untuk bisa “menerima” diri kita sendiri, dengan segala kelebihan dan keterbatasan kita, itu memang baik. Dalam ilmu psikologi, kalau gap antara “ideal self”(angan2) ma “real self”(kenyataan) makin tipis, secara psikologis kita akan semakin sehat.
Namun “kata mutiara” ini sepertinya hanya bisa dijalankan di otak dan hati kita. Ketika hal ini harus di operasionalkan secara nyata bin kasat mata oleh orang lain ya nanti dulu..
Tidak bisa dipungkiri bahwa selama kita berkomunitas dengan manusia lain, pastilah ada “aturan main” yang mau tidak mau kita musti merangsak “masuk” dalam aturan main itu. Bukannya mau munafik, tapi..yahhh..supaya kita bisa diterima..supaya kita bisa hidup berkomunitas secara harmoni.
Padahal masing2 dari kita kan punya lebih dari satu komunitas, yang sudah pasti punya aturan main yg tidak sama. Bahkan di dalam satu komunitas pun bisa jadi ada lebih dari satu aturan main yg berbeda2..(merujuk insiden Idola Cilik di atas, saran para komentator kan jelas saling bertubrukan satu sama lain..ironis!).
Berapa banyak “topeng” yang musti kita pakai secara bergantian untuk menyesuaikan dengan aturan main yang berlaku, supaya kita bisa “survive”? Lalu bagaimana kita bisa “Be Ourself”? :-o
Seberapa sering kita mengingatkan ke orang lain untuk: “Be Yourself”? Mungkin kita sudah merasa menjadi orang paling bijak sejagat raya ketika kita mencekokkan “nasihat” itu ke orang lain. Padahal kalau ditlusur2i..bukannya bagaikan menyumpal orang itu dengan dilemma yang maha dahsyat dan tak berkesudahan di kemudian hari dalam diri orang itu?
Apalagi untuk kasus di atas..kepada seorang anak usia 10 thn..apa nantinya anak itu ndak jadi bingung ma identitas dirinya sendiri?what a horrible nightmare! Gosh!!!
Lagi-lagi aku hanya bisa bilang...poor..poor, Siti..*pengen rasanya menghambur dan memeluknya..lalu bernyanyi..do-re-mi..re-mi-fa..fa-sol-la-si-dooooo..*
Jadi sebelum menasihati orang lain dengan jurus maut “Be Yourself” ya..”Be Cautious” dulu lah.
Yaaaaa????!!!!