Sebenernya capek ngomongin budaya ngantri di negeri ini. Kenapa ya susah banget kita memilikinya. Mo boarding ke pesawat mesti sikut2an, padahal jelas2 sudah ada nomer seatnya. Turun dr pesawat jg musti gencet2an, padahal jelas2 bandara kan tetep ngejugrug di tempatnya, ndak akan pergi kemana. Apa budaya berebut sudah menjadi archetype bangsa ini, yg diturunkan dari nenek moyang kita dulu? Sudah menjadi insting bangsa ini kalau tidak berebut bisa2 tidak kebagian?
Aku sendiri jg gerah dengan beberapa pengalaman yg mbencekno alias menyebalkan belum lama ini.
Kasus I : Ngantri di Kasir Dept Store
Sebulan lalu, aku nganter keponakan kecilku beli mainan di Sri Ratu-Madiun. Pas mau bayar di KASIR 33, aku liat cuman ada satu customer yg sedang dilayani kasir. Di depan kasir ada dua tiang pancang dan tali yg menghubungkan keduanya, sebagai penanda tempat antrian. Aku sempat bingung karena ndak ada petunjuk mulai antrinya dari sisi sebelah mana. Ya sudah lah aku ambil dari salah satu sisi, dan aku ngantri di blakang customer yg sedang dilayani.
Tiba2 ada lelaki muda, tegap nan gagah perkasa nyelonong di antrian melalui sisi lain dari tempat aku ngantri dan langsung menyodorkan nota pembelian di atas meja kasir, sementara customer sebelumnya jg masih lom kelar urusannya. Spontan dahiku berkerut, mataku pastilah dah melotot bak ikan mas koki. Keponakanku aja jg reflek mendorong aku untuk minta giliran duluan. Aku hanya elus kepala bocah itu, lalu aku tatap bapak itu. Tapi si bapak malah membusungkan dada, seolah mengejekku: “Gue dong dapat duluan, he3”
Hmmm..gondoklah pasti. Tp baru sebelah gondoknya, aku masih bisa bersabar. Sambil senyum2 kecut menghibur hati, aku nunggu reaksi mbak Kasir; berharap dia paham budaya antri, mengingatkan ke bapak itu untuk antri dan mendahulukanku dong.
Celakanya, bapak2 itulah dilayani duluan. Ghrrrrrr…Dah gondok kiri kanan nih!
Gitu aku dapet giliran, ndak tahan lah mulutku ini..
“Mbak, yang bener ngantrinya dari sebelah kiri atau kanan, ya. Kok tidak ada tanda dr mana masuknya untuk ngantri?” tanyaku.
“Ya..dari sebelah sana bisa, dari sebelah sini juga bisa, bu“ jawab kasirnya dengan enteng tanpa perhatikan klu aku dari tadi dah nahan esmosi..siap mbledhos!
Eng-ing-eng…musti dikasih “pelajaran” ni si embak…
“Bikin antrian yang bener dong mbak! Apa fungsi tempat antrian ini klu cara ngantrinya kyk gt. Mustinya dikasih tulisan masuknya dari mana!”
Si mbak kasir senyum2 tanpa brasa bersalah. Aku menunggu kata “maaf” dari dia. Sepelan apa pun, aku tunggu..please, say it.. Satu…duaaaaa…tiiiii…
Sia2 dahhhh…ooo-la-laaa...tak sikat sisan…
“Mbak itu klu jd kasir jgn cuman nunduk ngeliat uang doang! Liat customer juga, dong. Yang antri duluan didahulukan!!!”. Si mbak cmn senyum, tp terlihat seperti robot yang senyumnya terpogram tanpa tau makna. Garing abizzzz.
Aku liat ada wanita lain dari belakang mbak kasir dan mendekatinya. Sragamnya lbh keren, mungkin supervisornya. Aku yakin dia denger apa yang aku omongkan, tapi berlagak tidak tau. Huhhhh..sama saja..Menyebalkan!
Si mbak kasir sibuk ngeprint receipt dan siapin kembalian. Kasihkan ke aku, lempar senyum innocent dan say “Terima kasih, bu”. Kata “Maaf” yang cuman empat huruf, dan cukup diucapkan dgn dua suku kata ini, kenapa susah banget keluarnya!Hermaaaaannnnn…
Apakah ini menegaskan bahwa ANTRI itu TIDAK PENTING! WHO CARES??? Gitu kali yg ada di otak mbak kasir itu.
Kasus II: Ngantri di Bank One day, aku ke BTN Sidoarjo mo confirm auto debet angsuran KPRku plus sisa utang, krn selama setahun terakhir aku gak terima rekening koran. Pas aku lingak-linguk, ditanyai satpam ada keperluan apa, lalu dikasih tau dimana bagian KPR.
Di lantai 2, di depan bagian KPR yg ditunjukkan kepadaku ada 4 atau 5 meja gitu. Di depannya ada deretan kursi yang penuh dengan customer, aku hitung hampir 20 orang. Dari 4/5 meja itu ada dua org pegawai bank, meja lain kosong. Satu lelaki sedang melayani customer, satu perempuan sedang sibuk dengan komputernya.
Aku mengamati sekelilingku, penampakan orang2 yang lagi duduk2 itu kliatan pada gak tenang. Pasti lg ngantri, kliatan banget dahhhhhh..blingsatan, takut keduluan..:-P
Aku cari tempat duduk, dah gak ada lg yg kosong. Yadah berdiri saja, sambil meraba2 kira2 antriannya dari mana, ya? Ato mana orang yg terakhir datang sebelum aku, yg bisa aku pakai sebagai patokan kapan aku dapat giliran. I HAD NO CLUE AT ALL!!
Setelah menunggu selama 15 menit, satu customer yg dilayani td belom kelar juga, aku mulai gelisah. Kalau caranya gini kapan aku dapat giliran, sementara banyak urusan yg hrs aku selesaikan hr itu.
Maka aku datangi mbak yang “mainan” computer itu.
“Mbak, yang duduk2 ini semua pada ngantri di bagian KPR ya?” tanyaku.
“Kurang tau ya, bu..”
Lho???!!! Tuing-tuing..beberapa kunang2 menari2 di atas kepalaku..
“Lah ngantrinya darimana ya, mbak..?”
“Wah, saya juga tidak tau. Nanti kalau meja bapak itu kosong langsung masuk saja” kata mbaknya sambil menunjuk satu2nya pegawai bank yg sedang melayani bejibun customer.
Ohhhh…indahnyaaaaaa…
Aku ngeloyor menjauhi si mbak yang sibuk ma komputernya. Sambil mereka-reka: si mbak sibuk apa ya? Jgn2 sibuk ngeposting ato reply comments di Multiply..gubrrraaaaaaaakkkkk..waaqaqaqaqaaa…
Lebih dari setengah jam, ndak ada tanda2 aku segera dapat giliran. Kepalaku yg aslinya ndak ketombean apalagi kutuan mulai kerasa gatal, minta digaruk. Jengahhhhh..
Aku lemparkan pandanganku ke kiri kanan. Ada petugas bank yang kliatannya “senior” lewat, terus mengambil berkas di salah satu meja. Langsung kuhampiri dan kujelaskan maksud kedatanganku.
“Tunggu sebentar ya, bu. Saya sedang melayani customer,”
“Baiklah…” kataku, sedikiiiiiiit.bernafas lega.
Ndak beberapa lama bapak yang baik hati itu menghampiriku..
“Mari ikut saya, bu..”
Lalu aku dibawanya ke sebuah ruang dan mendapatkan pelayanan yang sangat memuaskan, hi3…
Ooooo..gt toh caranya…
Kenapa kita ndak terbiasa menggunakan bahasa tulis saja yaaaa..
Kasih petunjuk yang jelas urusan ini di sini..itu di situ..kan enak.
Lah ya klu aku ndak agresif gt mana tau aku..
Terus klu aku ikut ngantri antrian yg gak jelas gt, bisa2 aku nunggu pek elek .:-P.
Kasus III: Ngantri Nyambung Listrik di PLN
Rumahku di Sidoarjo, dah hampir dua tahun gak ditempati, karena ada sedikit keruwetan, salah paham ma my ex hubby, listrik gak terbayar selama lebih dari 3 bulan. Akibatnya listrik dicabut, meteran dibongkar. Alhasil pas aku urus di kantor PLN aku hrs bayar tunggakan plus apply penyambungan listrik baru.
Tapi ternyata musti ANTRI, gak ada ready stock material. Baiklahhhh…
Aku tanya berapa lama aku hrs menunggu, Mbak Ririn-petugas yg di stand by di front office menjelaskan, “Maaf, bu. Kita belum ada materialnya. Mungkin kurang lebih satu bulan lagi, bu..”
Meski rada shock jg dengan durasi waktunya, namun aku agak sedikit terhibur dengan pelayanannya yg ramah dan manis plus bonus kata “maaf” yang terdengar adem di telingaku.
“Aku gak punya tempat tinggal lain, mbak. Ada ndak cara lain yg bisa dilakukan agar bs dipercepat prosesnya” tanyaku memancing2..siapa tau ada “strategi” tertentu yg melibatkan..ehmm..uang pelicin, gt.
“Wah, maaf bu. Saat ini saja antriannya sudah menumpuk. Harus ngantri,”
“Hmmm..baiklah. Boleh saya tau bagaimana saya dapat informasi kalau materialnya sudah tersedia untuk saya, mbak?”
“Ibu tinggalkan nomer telpon yang bisa dihubungi, nanti saya hubungi,”
Wahhhh..aku rada trauma dengan term MENUNGGU ini.
“Boleh saya saja yg telpon mbak Ririn?”
Rada lama si mbak meng-iya-kan. Lalu dengan gemulai dia bilang; “Hmm..coba 2 minggu lg ibu cek, silakan menghubungi PLN,”
“Dua minggu lagi berarti tanggal berapa ya mbak?” tanyaku rada mendesak, hi3. Pokoknya aku mau yg jelas2 saja..tuntas-tasssssss..:-D
Pada tanggal yg sudah disepakati aku menghubungi mbak Ririn-PLN via telpon. Ternyata belum ada material untuk rumahku. Masih harus ngantri. Dan lagi2 ngantri di antrian yg TIDAK JELAS.
Hmmmm...otakku langsung berputar cepat. Aku membayangkan yg ruwet2 gt dahhh. Ngantrinya kan ndak jelas, bisa ndak fair, mana kita tau klu tumpukan aplikasi itu dibolak-balik urutannya?
Seandainya setiap org yang apply dikasih nomer antrian, terus setiap kita cek kita bisa tau yg sudah dapat giliran nomer berapa, kita kan jadi tenang dan tidak parno. Karena kita jadinya bisa tahu masih seberapa lama kita menunggu; dan kita juga tahu kalu antrian kita sedang diproses.
Antrian yang aneh...:-(
ANALISIS
Kenapa budaya ANTRI tidak kita miliki?
1. Berebut
Mungkin budaya berebut memang sudah jadi insting negeri ini, yang diturunkan oleh embah2 kita dulu. Secara dulu memang wajar, kekayaan kita direbut penjajah, dan sesama kita sendiri musti berebut biar bisa makan. Tapi sekarang kan dah merdeka, kenapa kita gak berani untuk berubah? Mengubah perilaku lama yg dah mengakar itu memang tidak mudah. Tapi klu berubah untuk sesuatu yg lebih indah, kenapa tidak? Bangsa ini sudah merdeka, man! Mental bangsa terjajah musti kita tanggalkan!
2. Kurangnya penghargaan akan WAKTU.
Sebenarnya slogan TIME IS MONEY dah lewat, tergantikan oleh INFORMATION IS MONEY! Tp kita kan lom bisa bikin mesin waktu yg bisa begitu saja melompat dari satu track ke track yg lain, hi3. Penghargaan akan waktu kita masih sangat memprihatinkan. Mungkin ini juga yg menyebabkan orang tidak perduli dengan budaya ANTRI. Kantor2 layanan publik jg merasa tidak perlu membudayakan ANTRI karena gak sadar bhw antrian yg gak jelas dan gak fair itu membuang waktu orang yang ngantri. Coba klu mereka sadar sudah berapa banyak waktu yang mereka “CURI” dari customer mereka untuk ngantri! THEY DON’T CARE!
3. Yang besar/kuat yang menang.
Ini dah jaman edan, man! Smua2 jd berkebalikan. Yang punya Laptop ato HP aja dah slalu upgrade, cari yg terbaru; yg seringan dan sekecil mungkin. Yang beli tipi juga cari yang setipis mungkin. Yang cari bojo..cari yang seramping mungkin..loh..hubungane opo? waqaqaqa…:-P
Dah gak jamannya lah HUKUM RIMBA itu dilestarikan. JADUL bangeeet, daaahhhh..
Dan..menyamakan budaya antri dengan penggalangan masa untuk kampanye? Ndak ada pantes2nya lah.. *garuk2 kepala lg, aku..*
SOLUSI
Klu ngomongin solusi..yaaa..
Ayo sama2 belajar ngantri. nDak perlu sekolah tinggi2 untuk blajar ngantri..ndak perlu TPA..ndak perlu tes TOEFL/IELTS.. hi3.
Slain itu mbok ya mari kita saling mengingatkan. Klu nemu kasus seperti di atas langsung sikat saja! ehhh..mengingatkan, gt. Jangan diam aja ato cuek apalagi malah ikut arus; ikut “rusak”...payaaaahhhhh..:-(
Apa guna otak dan mulut kita? Jangan biarkan otak kita beku, jangan biarkan mulut kita bisu!
ANTRI…WHO CARES???
ALL OF US MUST CARE!!!
Nb: Kok kayak iklan layanan masyarakat, yah. Antin semalem emang lg kesurupan..:-P