Blog EntryAntri: Who cares?!!!Feb 15, '08 10:41 PM
for everyone

Sebenernya capek ngomongin budaya ngantri di negeri ini. Kenapa ya susah banget kita memilikinya. Mo boarding ke pesawat mesti sikut2an, padahal jelas2 sudah ada nomer seatnya. Turun dr pesawat jg musti gencet2an, padahal jelas2 bandara kan tetep ngejugrug di tempatnya, ndak akan pergi kemana. Apa budaya berebut sudah menjadi archetype bangsa ini, yg diturunkan dari nenek moyang kita dulu? Sudah menjadi insting bangsa ini kalau tidak berebut bisa2 tidak kebagian?

Aku sendiri jg gerah dengan beberapa pengalaman yg mbencekno alias menyebalkan belum lama ini.

Kasus I : Ngantri di Kasir Dept Store

Sebulan lalu, aku nganter keponakan kecilku beli mainan di Sri Ratu-Madiun. Pas mau bayar di KASIR 33, aku liat cuman ada satu customer yg sedang dilayani kasir. Di depan kasir ada dua tiang pancang dan tali yg menghubungkan keduanya, sebagai penanda tempat antrian. Aku sempat bingung karena ndak ada petunjuk mulai antrinya dari sisi sebelah mana. Ya sudah lah aku ambil dari salah satu sisi, dan aku ngantri di blakang customer yg sedang dilayani.

Tiba2 ada lelaki muda, tegap nan gagah perkasa nyelonong di antrian melalui sisi lain dari tempat aku ngantri dan langsung menyodorkan nota pembelian di atas meja kasir, sementara customer sebelumnya jg masih lom kelar urusannya. Spontan dahiku berkerut, mataku pastilah dah melotot bak ikan mas koki. Keponakanku aja jg reflek mendorong aku untuk minta giliran duluan. Aku hanya elus kepala bocah itu, lalu aku tatap bapak itu. Tapi si bapak malah membusungkan dada, seolah mengejekku: “Gue dong dapat duluan, he3”

Hmmm..gondoklah pasti. Tp baru sebelah gondoknya, aku masih bisa bersabar. Sambil senyum2 kecut menghibur hati, aku nunggu reaksi mbak Kasir; berharap dia paham budaya antri, mengingatkan ke bapak itu untuk antri dan mendahulukanku dong.

Celakanya, bapak2 itulah dilayani duluan. Ghrrrrrr…Dah gondok kiri kanan nih!
Gitu aku dapet giliran, ndak tahan lah mulutku ini..
“Mbak, yang bener ngantrinya dari sebelah kiri atau kanan, ya. Kok tidak ada tanda dr mana masuknya untuk ngantri?” tanyaku.
“Ya..dari sebelah sana bisa, dari sebelah sini juga bisa, bu“ jawab kasirnya dengan enteng tanpa perhatikan klu aku dari tadi dah nahan esmosi..siap mbledhos!
Eng-ing-eng…musti dikasih “pelajaran” ni si embak…

“Bikin antrian yang bener dong mbak! Apa fungsi tempat antrian ini klu cara ngantrinya kyk gt. Mustinya dikasih tulisan masuknya dari mana!”
Si mbak kasir senyum2 tanpa brasa bersalah. Aku menunggu kata “maaf” dari dia. Sepelan apa pun, aku tunggu..please, say it.. Satu…duaaaaa…tiiiii…

Sia2 dahhhh…ooo-la-laaa...tak sikat sisan…

“Mbak itu klu jd kasir jgn cuman nunduk ngeliat uang doang! Liat customer juga, dong. Yang antri duluan didahulukan!!!”. Si mbak cmn senyum, tp terlihat seperti robot yang senyumnya terpogram tanpa tau makna. Garing abizzzz.

Aku liat ada wanita lain dari belakang mbak kasir dan mendekatinya. Sragamnya lbh keren, mungkin supervisornya. Aku yakin dia denger apa yang aku omongkan, tapi berlagak tidak tau. Huhhhh..sama saja..Menyebalkan!

Si mbak kasir sibuk ngeprint receipt dan siapin kembalian. Kasihkan ke aku, lempar senyum innocent dan say “Terima kasih, bu”. Kata “Maaf” yang cuman empat huruf, dan cukup diucapkan dgn dua suku kata ini, kenapa susah banget keluarnya!Hermaaaaannnnn…

Apakah ini menegaskan bahwa ANTRI itu TIDAK PENTING! WHO CARES??? Gitu kali yg ada di otak mbak kasir itu.


Kasus II: Ngantri di Bank

One day, aku ke BTN Sidoarjo mo confirm auto debet angsuran KPRku plus sisa utang, krn selama setahun terakhir aku gak terima rekening koran. Pas aku lingak-linguk, ditanyai satpam ada keperluan apa, lalu dikasih tau dimana bagian KPR.

Di lantai 2, di depan bagian KPR yg ditunjukkan kepadaku ada 4 atau 5 meja gitu. Di depannya ada deretan kursi yang penuh dengan customer, aku hitung hampir 20 orang. Dari 4/5 meja itu ada dua org pegawai bank, meja lain kosong. Satu lelaki sedang melayani customer, satu perempuan sedang sibuk dengan komputernya.

Aku mengamati sekelilingku, penampakan orang2 yang lagi duduk2 itu kliatan pada gak tenang. Pasti lg ngantri, kliatan banget dahhhhhh..blingsatan, takut keduluan..:-P

Aku cari tempat duduk, dah gak ada lg yg kosong. Yadah berdiri saja, sambil meraba2 kira2 antriannya dari mana, ya? Ato mana orang yg terakhir datang sebelum aku, yg bisa aku pakai sebagai patokan kapan aku dapat giliran. I HAD NO CLUE AT ALL!!

Setelah menunggu selama 15 menit, satu customer yg dilayani td belom kelar juga, aku mulai gelisah. Kalau caranya gini kapan aku dapat giliran, sementara banyak urusan yg hrs aku selesaikan hr itu.

Maka aku datangi mbak yang “mainan” computer itu.
“Mbak, yang duduk2 ini semua pada ngantri di bagian KPR ya?” tanyaku.
“Kurang tau ya, bu..”
Lho???!!! Tuing-tuing..beberapa kunang2 menari2 di atas kepalaku..
“Lah ngantrinya darimana ya, mbak..?”
“Wah, saya juga tidak tau. Nanti kalau meja bapak itu kosong langsung masuk saja” kata mbaknya sambil menunjuk satu2nya pegawai bank yg sedang melayani bejibun customer.

Ohhhh…indahnyaaaaaa…

Aku ngeloyor menjauhi si mbak yang sibuk ma komputernya. Sambil mereka-reka: si mbak sibuk apa ya? Jgn2 sibuk ngeposting ato reply comments di Multiply..gubrrraaaaaaaakkkkk..waaqaqaqaqaaa…

Lebih dari setengah jam, ndak ada tanda2 aku segera dapat giliran. Kepalaku yg aslinya ndak ketombean apalagi kutuan mulai kerasa gatal, minta digaruk. Jengahhhhh..
Aku lemparkan pandanganku ke kiri kanan. Ada petugas bank yang kliatannya “senior” lewat, terus mengambil berkas di salah satu meja. Langsung kuhampiri dan kujelaskan maksud kedatanganku.
“Tunggu sebentar ya, bu. Saya sedang melayani customer,”
“Baiklah…” kataku, sedikiiiiiiit.bernafas lega.

Ndak beberapa lama bapak yang baik hati itu menghampiriku..
“Mari ikut saya, bu..”
Lalu aku dibawanya ke sebuah ruang dan mendapatkan pelayanan yang sangat memuaskan, hi3…

Ooooo..gt toh caranya…

Kenapa kita ndak terbiasa menggunakan bahasa tulis saja yaaaa..
Kasih petunjuk yang jelas urusan ini di sini..itu di situ..kan enak.
Lah ya klu aku ndak agresif gt mana tau aku..
Terus klu aku ikut ngantri antrian yg gak jelas gt, bisa2 aku nunggu pek elek .:-P.

 
Kasus III: Ngantri Nyambung Listrik di PLN

Rumahku di Sidoarjo, dah hampir dua tahun gak ditempati, karena ada sedikit keruwetan, salah paham ma my ex hubby, listrik gak terbayar selama lebih dari 3 bulan. Akibatnya listrik dicabut, meteran dibongkar. Alhasil pas aku urus di kantor PLN aku hrs bayar tunggakan plus apply penyambungan listrik baru.

Tapi ternyata musti ANTRI, gak ada ready stock material. Baiklahhhh…
Aku tanya berapa lama aku hrs menunggu, Mbak Ririn-petugas yg di stand by di front office menjelaskan, “Maaf, bu. Kita belum ada materialnya. Mungkin kurang lebih satu bulan lagi, bu..”
Meski rada shock jg dengan durasi waktunya, namun aku agak sedikit terhibur dengan pelayanannya yg ramah dan manis plus bonus kata “maaf” yang terdengar adem di telingaku.
“Aku gak punya tempat tinggal lain, mbak. Ada ndak cara lain yg bisa dilakukan agar bs dipercepat prosesnya” tanyaku memancing2..siapa tau ada “strategi” tertentu yg melibatkan..ehmm..uang pelicin, gt.

“Wah, maaf bu. Saat ini saja antriannya sudah menumpuk. Harus ngantri,”
“Hmmm..baiklah. Boleh saya tau bagaimana saya dapat informasi kalau materialnya sudah tersedia untuk saya, mbak?”
“Ibu tinggalkan nomer telpon yang bisa dihubungi, nanti saya hubungi,”
Wahhhh..aku rada trauma dengan term MENUNGGU ini.
“Boleh saya saja yg telpon mbak Ririn?”
Rada lama si mbak meng-iya-kan. Lalu dengan gemulai dia bilang; “Hmm..coba 2 minggu lg ibu cek, silakan menghubungi PLN,”
“Dua minggu lagi berarti tanggal berapa ya mbak?” tanyaku rada mendesak, hi3. Pokoknya aku mau yg jelas2 saja..tuntas-tasssssss..:-D

Pada tanggal yg sudah disepakati aku menghubungi mbak Ririn-PLN via telpon. Ternyata belum ada material untuk rumahku. Masih harus ngantri. Dan lagi2 ngantri di antrian yg TIDAK JELAS.
Hmmmm...otakku langsung berputar cepat. Aku membayangkan yg ruwet2 gt dahhh. Ngantrinya kan ndak jelas, bisa ndak fair, mana kita tau klu tumpukan aplikasi itu dibolak-balik urutannya?

Seandainya setiap org yang apply dikasih nomer antrian, terus setiap kita cek kita bisa tau yg sudah dapat giliran nomer berapa, kita kan jadi tenang dan tidak parno. Karena kita jadinya bisa tahu masih seberapa lama kita menunggu; dan kita juga tahu kalu antrian kita sedang diproses.
Antrian yang aneh...:-(


ANALISIS

Kenapa budaya ANTRI tidak kita miliki?

1.      Berebut

Mungkin budaya berebut memang sudah jadi insting negeri ini, yang diturunkan oleh embah2 kita dulu. Secara dulu memang wajar, kekayaan kita direbut penjajah, dan sesama kita sendiri musti berebut biar bisa makan. Tapi sekarang kan dah merdeka, kenapa kita gak berani untuk berubah? Mengubah perilaku lama yg dah mengakar itu memang tidak mudah. Tapi klu berubah untuk sesuatu yg lebih indah, kenapa tidak? Bangsa ini sudah merdeka, man! Mental bangsa terjajah musti kita tanggalkan!

2.      Kurangnya penghargaan akan WAKTU.

Sebenarnya slogan TIME IS MONEY dah lewat, tergantikan oleh INFORMATION IS MONEY! Tp kita kan lom bisa bikin mesin waktu yg bisa begitu saja melompat dari satu track ke track yg lain, hi3. Penghargaan akan waktu kita masih sangat memprihatinkan. Mungkin ini juga yg menyebabkan orang tidak perduli dengan budaya ANTRI. Kantor2 layanan publik jg merasa tidak perlu membudayakan ANTRI karena gak sadar bhw antrian yg gak jelas dan gak fair itu membuang waktu orang yang ngantri. Coba klu mereka sadar sudah berapa banyak waktu yang mereka “CURI” dari customer mereka untuk ngantri! THEY DON’T CARE!

3.      Yang besar/kuat yang menang.

Ini dah jaman edan, man! Smua2 jd berkebalikan. Yang punya Laptop ato HP aja dah slalu upgrade, cari yg terbaru; yg seringan dan sekecil mungkin. Yang beli tipi juga cari yang setipis mungkin. Yang cari bojo..cari yang seramping mungkin..loh..hubungane opo? waqaqaqa…:-P
Dah gak jamannya lah HUKUM RIMBA itu dilestarikan. JADUL bangeeet, daaahhhh..
Dan..menyamakan budaya antri dengan penggalangan masa untuk kampanye? Ndak ada pantes2nya lah.. *garuk2 kepala lg, aku..*


SOLUSI

Klu ngomongin solusi..yaaa..
Ayo sama2 belajar ngantri. nDak perlu sekolah tinggi2 untuk blajar ngantri..ndak perlu TPA..ndak perlu tes TOEFL/IELTS.. hi3.
Slain itu mbok ya mari kita saling mengingatkan. Klu nemu kasus seperti di atas langsung sikat saja! ehhh..mengingatkan, gt. Jangan diam aja ato cuek apalagi malah ikut arus; ikut  “rusak”...payaaaahhhhh..:-(

Apa guna otak dan mulut kita? Jangan biarkan otak kita beku, jangan biarkan mulut kita bisu!
ANTRI…WHO CARES???
ALL OF US MUST CARE!!!

Nb: Kok kayak iklan layanan masyarakat, yah. Antin semalem emang lg kesurupan..:-P


36 CommentsChronological   Reverse   Threaded
3astwest wrote on Feb 15
halloooooww cintaa...how are ya? hows JKT? :):):) miss ya!
notnot9 wrote on Feb 15
halooooow...kasiiihhhhh..miss ya, too...*big hugs n hot kisses* ;;).
i'm very well thanks.
daku di seputar Surabaya-Sidoarjo..
Surabaya masih teteppp..puanassssss..:-(
samaranch99 wrote on Feb 15
sabar.. sabaaaaaaaaaar ! kita adalah bangsa yang penuh toleransi dan penyabar. Dijajah 350 th juga sabar. Jadi tunggu 350 th lagi mudah-mudahan kita sudah bisa antri.
drjulia wrote on Feb 15
Hi Mbak Antin..
hehe, jadi langsung disambut pengalaman tak menyenangkan nih?
yudirudiana wrote on Feb 16
suruh belajar ama bebek....
bebek aza bisa antri masa manusia yg punya kelebihan akan akal dan nurani masih berkelakuan seperti itu.....
aduch..... aduch.....

notnot9 wrote on Feb 16
sabar.. sabaaaaaaaaaar ! kita adalah bangsa yang penuh toleransi dan penyabar. Dijajah 350 th juga sabar. Jadi tunggu 350 th lagi mudah-mudahan kita sudah bisa antri.
wadddoooowwwwww...kita dah merdeka berapa lama yaaa..masih hrs nunggu berapa thn lagi biar bisa antri?wah3..mosok musti gt toh yaaaaa...
ndak ahhh..kita musti blajar sungguh2 mulai dari sekaraaaaaaannggggg..
SEMANGAAATTTTT!!!!!.
notnot9 wrote on Feb 16
drjulia said
Hi Mbak Antin..
hehe, jadi langsung disambut pengalaman tak menyenangkan nih?
Hiksss..balik ke negeri sendiri aku shock culture lagi, say...:-s
Bagaimana ini?
notnot9 wrote on Feb 16
suruh belajar ama bebek....
bebek aza bisa antri masa manusia yg punya kelebihan akan akal dan nurani masih berkelakuan seperti itu.....
aduch..... aduch.....

Iya..blajar dari bebek boleh lah..
Gmn cara ngasih pelajaran ttg bebek ya?
Pasang baliho bebek yg lg antri, Yud..
Bikin yg buagussssss..dipasang di loket2, kasir2 dll; klu perlu bikin leaflet buat dipasang di jidat. Biar kyk vampire skalian..:-D
ibutio wrote on Feb 16
hoho...itu antri di btn mana aja emang begitu kali ya...kita dianggap sudah tau tata cara bayar dll, jadi nggak ada tulisan apapun, kecuali nanya-nanya. Pertama mau bayar kpr aja, bingung...di kasih mana, form apa yang harus diisi.
Justru....kalo saya bayar listrik ato PAM di kompeks deket rumah...nah...lebih teratur, yang datang belakangan pada tau diri, kalo harus antri... tapi kalo udah di tempat umum yang beneran umum kayak supermarket ato dept store...wuah... pusiying deh...
yudirudiana wrote on Feb 16
notnot9 said
Iya..blajar dari bebek boleh lah..
Gmn cara ngasih pelajaran ttg bebek ya?
Pasang baliho bebek yg lg antri, Yud..
Bikin yg buagussssss..dipasang di loket2, kasir2 dll; klu perlu bikin leaflet buat dipasang di jidat. Biar kyk vampire skalian..:-D
emang betul tuch mbae......
dikantorku aza dipasang poster bebek yg lagi antri biar bisa ngaca....
maapkeun bangsa ini yach mbae......
aduch sian banget liat keadaanya seperti ini hik... hiks....
yudirudiana wrote on Feb 16
notnot9 said
Iya..blajar dari bebek boleh lah..
Gmn cara ngasih pelajaran ttg bebek ya?
Pasang baliho bebek yg lg antri, Yud..
Bikin yg buagussssss..dipasang di loket2, kasir2 dll; klu perlu bikin leaflet buat dipasang di jidat. Biar kyk vampire skalian..:-D
emang betul tuch mbae......
dikantorku aza dipasang poster bebek yg lagi antri biar bisa ngaca....
maapkeun bangsa ini yach mbae......
aduch sian banget liat keadaanya seperti ini hik... hiks....
indlest wrote on Feb 16
Wakakakas...*jo nesu*,dasarbu dosen bikin diary aja kayak skripsi. Wah pasti mahasiswanya jiper nich kalomo bimbingan skripsi. Lha bu dosennya jago...Ngemeng2 pulang ke Indo langsung mumet deh lihat segala ketidakdisiplinan,...kudu adaptasi maneh mben iso menikmati lagi he..he..:)
ophoeng wrote on Feb 16
Hehehe... uraian anda kayak yang bikin thesis mau ujian, pake analisa segala dan solusinya. Kumplit-plit. TFS.

Bicara pesawat atau bis, atau angkutan umum lain, saya ingat masa saya SMP, naek bis dari Cirebon menuju Tanjung-Tegal, bis penuh saya mau gantian duduk ama kakak misan saya, eh, saya berdiri langsung tempatnya diserobot bapak-bapak. Saya tegur malah dia yang marah-marah, lebih galak: emang saya ndak berhak duduk juga?

Memang menyedihkan kalau kita ketemu hal-hal begitu. Masih mending anda tegur cuma dikasih senyum. Kasir Dpt. Store memang serba salah, walau sebenernya dia bisa saja menegur si bapak untuk antri. Sebab ada kemungkinan si bapak malah marah-marah lebih galak, dia bisa disalahin juga oleh boss-nya. Yang ideal memang dikasih tanda. Tapi ada tanda ndak jaminan orang tertib juga. Kalau ada yang mau nyerobot, dilema buat si kasir juga. Dua-dua pelanggan, jeh!

Saya pernah ingat di Bali, di pompa bensin ada mobil yang mau nyelonong gak antri. Si petugas mendiamkan ndak mau layani. Ketika orang itu ngotot (mobilnya letter luar Bali), dia bilang tolong antri dong, pak. Orang itu ngomel-ngomel lantas ngeloyor. Yang lain pada acungin jempol ke petugas.

Kasir bank setali tiga uang. Ndak ada rasa tanggungjawabnya, atau memang sudah di-design begitu. Lihat kasir sebelah rame dia cuwek ajah. Mungkin juga sebab itu bukan tugasnya. Kita pan ndak tahu, tahunya mereka toh petugas bank juga ya.

Bank besar seperti Niaga juga sama ajah. Pernah saya datang pas pagi, baru buka. Eh, si kasir asyik ajah di depan kompi-nya. Mungkin bener kata anda dia lagi asyik ngempi atau chatting. Saya tunggu diam ajah. Saya tegur malah dia ngomel-ngomel, lagi sibuk. Ketemu manager-nya ya sarua keneh, sami mawon, cuma senyum ajah. Mending masih bilang maaf. Tapi ya sama ajah mbencek-no.

Dari konsumennya, saya pernah antri di ATM. Kebetulan yang di depan saya temen sudah masuk. Mungkin ada banyak bayar tagihan jadi lama. Yang di belakang sudah ngedumel terus-terusan. Jadi saya bilang kita punya pilihan, kalau ndak mau antri ya pindah cari ATM lain. Eh, malah dia galak ngomel-ngomel, lha saya ndak bilang ama situ koq! Hahaha... bener juga sih!

Buat yang maunya tertib, memang bikin frustrasi menghadapi hal-hal begitu. Cuma saya sih terpaksa enjoy ajah. Mau bilang apa? Lha level mereka sudah mentok sampai di situ ajah sih! Ndak usah mengharap kalau ndak mau kecewa akhirnya.

Yang bisa dan mampu maen kompi juga ndak jaminan, begitu juga sekolah di luar negeri ndak jaminan. Yang mampu secara ekonomi ya sama ajah. Kalau ketemu yang model begitu, ndak mau antri, mau menang dhewe, ya sama ajah ada tuh, Tin! Semuanya tergantung orangnya juga sih. Ndak ada sekolahnya. Jadi mesti belajar sendiri, kemauan sendiri. Gak bisa diajari.

Rasanya anda cukup mewakili banyak orang yang kesel tapi ndak bisa cerita. Toosss, sebagai sesama kurban orang-orang yang mbencek-no. Bikin klub KOSM (Kurban Orang-2 Sing Mbencekno) ajah yuk? Hahaha.....
mamahanna wrote on Feb 16
qiqiqi.....senyamsenyum sendiri deh aku bacanya...
aku juga paling galak kalo pulkam nih masalah ginian,tapi biasanya sih aku cuek langsung ta tegor halus dulu,kalo yg urat malunya udah putus,baru deh aku ajak perang..hehe sebelllllll abis
tapi kayanya kebanyakan orang kita gak dimana2 gitu deh,kalo namu ke negara orang juga budaya serobotannya ini masih dipake...;99
pelangidimatamu wrote on Feb 16
hahahha...saat pertama kali kembali ke tanah air, banyakk banget yang dikeluhin, dari mulai waktu molor, ga ada tata tertib, polusi, macet yang bikin gila plus orang buang sampah dimana aja tanpa merasa berdosa.....cape deee....untuk belajar antri aja...negara kita masih harus berproses dulu beberapa tahun..apalagi hal2 lainnya...:(
elsyesjournal wrote on Feb 16
antiiinnnnnnnnn....judulnya capekkkk deeeehhh..., tapi memang buadaya ngantri dinegri kita tercinta menurut aku ngga ada samsek, ada cerita waktu di bank, bisanya orang yang belum dipanggil nomornya nongol di deket aku waktu di meja kasir, ikutan liat aku ngambil uang...wakakakaka..akhire aku damprat...*apa liat-liat antri dong di belakang*

ehmmm emang susah yaa..tapi mulai dari kita aja say...ngantri yang bener, walau pasti ga bakalan kebagian dilayani....hahahahahah
dnukie wrote on Feb 16
duh, ntin...gitu deh kalo udh biasa ngantri yah yg jelas....gue kadang kalo begitu ajak aja teman atau sapalah buta ikutan...biasanya gue tanya dulu ke satpam atau yg lainnya disitu, cuman kok jawabannya gak ngerti juga yah....cuman dimadiun aja kali yg begitu yah, hehehe.....
aniqahakeem wrote on Feb 16
mba Antin saya juga termasuk orang yang gerah kalau lagi ngantri diserobot he.he.. kalau saya mah biasanya langsung to the point aja ..maaf pak. bu, ngantri dong kasian yang udah lama nunggu ..abis kalau diem juga malah makan hati hi..hi..

Cuma ya itu mungkin karena sejak kecil juga ngga ditanamkan manner seperti itu ya , kalau anak2 disini kan mereka sudah mengenal budaya antri sejak kecil.. wong mau main ayunan, perosotan di taman juga ngantri, walaupun sampai nangis2 karena pengen duluan tapi ibunya yang menanamkan kalau kamu ngga mau ngantri kamu ngga akan dapat giliran dan menanamkan nilai kesabaran dalam antrian.. ( kayaknya itu yang ngga dipunya oleh orang yang seneng nyerobot he.he.. )
qhiqhio wrote on Feb 17
siap2 shock culture kl pulang dari luar ya..
hi...........atut............
wowoks wrote on Feb 17
Alhamdullilah bagi yg telah hidup di eropa amerika dan australi, karena mereka telah tergembleng di indonesia dng ketidakberesan, jadi alangkah indahnya ketika dia hidup di negara negara itu. sebaliknya bagi yg biasa hidup di negara maju dengan budaya antri yg baik, yaaaa nuwun sewu silakan banyak berdoa agar psikologis anda tidak terganggu
jengindah wrote on Feb 17
notnot9 said
wadddoooowwwwww...kita dah merdeka berapa lama yaaa..masih hrs nunggu berapa thn lagi biar bisa antri?wah3..mosok musti gt toh yaaaaa...
ndak ahhh..kita musti blajar sungguh2 mulai dari sekaraaaaaaannggggg..
SEMANGAAATTTTT!!!!!.
ya...musti antre jeng belajarnya, wong masih belajar memberantas korupsi lho.....jadi belajar antre ngantri dulu yah....abis belajar yang lain hehehhehe
jengindah wrote on Feb 17
salut buat diajeng.......lengkap tenan, wes coro tesis....analisanya tajam terpercaya ki......:D
notnot9 wrote on Feb 17
emang betul tuch mbae......
dikantorku aza dipasang poster bebek yg lagi antri biar bisa ngaca....
maapkeun bangsa ini yach mbae......
aduch sian banget liat keadaanya seperti ini hik... hiks....
sedih jg emang..tp gmn pun juga itulah negeri kita.
seburuk apapun itulah "kita".
tapi salah juga kalau kita cuman menerima tidak mau mengubah keburukan itu menjadi kemuliaan.
ayok kita mulai dari sekarang!
notnot9 wrote on Feb 17
indlest said
Wakakakas...*jo nesu*,dasarbu dosen bikin diary aja kayak skripsi. Wah pasti mahasiswanya jiper nich kalomo bimbingan skripsi. Lha bu dosennya jago...Ngemeng2 pulang ke Indo langsung mumet deh lihat segala ketidakdisiplinan,...kudu adaptasi maneh mben iso menikmati lagi he..he..:)
hweeeee..gak nesu aku. cuman sumuuuuuukkkkkk..:-D
notnot9 wrote on Feb 17, edited on Feb 17
Buat Om Oephoeng..
Qiqiqi..si Om bisa ajah.Lah ini reply-an Om juga tajem uraiannya, lengkap dengan fakta di lapangan, dah kayak disertasi..:-D
Wahhh..TFS jg, Om..
Klub KOSM..ehmmm..mauuu..aku bagian ngompori aja ya.. hi3..
notnot9 wrote on Feb 17
qiqiqi.....senyamsenyum sendiri deh aku bacanya...
aku juga paling galak kalo pulkam nih masalah ginian,tapi biasanya sih aku cuek langsung ta tegor halus dulu,kalo yg urat malunya udah putus,baru deh aku ajak perang..hehe sebelllllll abis
tapi kayanya kebanyakan orang kita gak dimana2 gitu deh,kalo namu ke negara orang juga budaya serobotannya ini masih dipake...;99
Setuju, Mamahanna...
mari "berperang" menuju kebaikan negeri ini.. >:D<
notnot9 wrote on Feb 17
hahahha...saat pertama kali kembali ke tanah air, banyakk banget yang dikeluhin, dari mulai waktu molor, ga ada tata tertib, polusi, macet yang bikin gila plus orang buang sampah dimana aja tanpa merasa berdosa.....cape deee....untuk belajar antri aja...negara kita masih harus berproses dulu beberapa tahun..apalagi hal2 lainnya...:(
Iya..pengennya stop complaining..
Tapi klu ditahan2 malah jadi borok, eksim, bernanah..walaaahhhhh..:-D
notnot9 wrote on Feb 17
antiiinnnnnnnnn....judulnya capekkkk deeeehhh..., tapi memang buadaya ngantri dinegri kita tercinta menurut aku ngga ada samsek, ada cerita waktu di bank, bisanya orang yang belum dipanggil nomornya nongol di deket aku waktu di meja kasir, ikutan liat aku ngambil uang...wakakakaka..akhire aku damprat...*apa liat-liat antri dong di belakang*

ehmmm emang susah yaa..tapi mulai dari kita aja say...ngantri yang bener, walau pasti ga bakalan kebagian dilayani....hahahahahah
Elsyeeeee...kmn ajah? Missya...:-*
Iya..kita mulai dari diri kita sendiri, dr yang kecil..dan sekaraaannngggg..:-D
notnot9 wrote on Feb 17
dnukie said
duh, ntin...gitu deh kalo udh biasa ngantri yah yg jelas....gue kadang kalo begitu ajak aja teman atau sapalah buta ikutan...biasanya gue tanya dulu ke satpam atau yg lainnya disitu, cuman kok jawabannya gak ngerti juga yah....cuman dimadiun aja kali yg begitu yah, hehehe.....
Duh, kie. Iya, knapa musti tanya2 gt, ya. Apa mungkin kata mutiara "takut bertanya sesat di jalan" dah gt lekat di otak kita.
Di negeri seberang, misal soal transport ajah, kan ada ratusan angkutan plus tujuan, tp kita tidak perlu sibuk tanya2 klu gak tau, soalnya informasi bhs tulisnya jelas bggt. Kita bs baca sendiri.
Daripada kita dah tanya2 petugas tp yg ditanya jg ndak tau..cuapek dehhhh..
notnot9 wrote on Feb 17
mba Antin saya juga termasuk orang yang gerah kalau lagi ngantri diserobot he.he.. kalau saya mah biasanya langsung to the point aja ..maaf pak. bu, ngantri dong kasian yang udah lama nunggu ..abis kalau diem juga malah makan hati hi..hi..

Cuma ya itu mungkin karena sejak kecil juga ngga ditanamkan manner seperti itu ya , kalau anak2 disini kan mereka sudah mengenal budaya antri sejak kecil.. wong mau main ayunan, perosotan di taman juga ngantri, walaupun sampai nangis2 karena pengen duluan tapi ibunya yang menanamkan kalau kamu ngga mau ngantri kamu ngga akan dapat giliran dan menanamkan nilai kesabaran dalam antrian.. ( kayaknya itu yang ngga dipunya oleh orang yang seneng nyerobot he.he.. )
Bener mbak...
Aku pernah magang di Kindy, dari anak2 udah dibiasakan belajar "taking turn" alias ngantri. Aku masih inget banget, memberi semangat ke anak2 yg sabar nunggu giliran main ayunan.."Good waiting boys!"
notnot9 wrote on Feb 17
qhiqhio said
siap2 shock culture kl pulang dari luar ya..
hi...........atut............
Hi3..siap2 yah, Qq.. :-D
notnot9 wrote on Feb 17
wowoks said
Alhamdullilah bagi yg telah hidup di eropa amerika dan australi, karena mereka telah tergembleng di indonesia dng ketidakberesan, jadi alangkah indahnya ketika dia hidup di negara negara itu. sebaliknya bagi yg biasa hidup di negara maju dengan budaya antri yg baik, yaaaa nuwun sewu silakan banyak berdoa agar psikologis anda tidak terganggu
Berdoa dan berusaha lah..:-)
notnot9 wrote on Feb 17
ya...musti antre jeng belajarnya, wong masih belajar memberantas korupsi lho.....jadi belajar antre ngantri dulu yah....abis belajar yang lain hehehhehe
hi3..ngantri belajar ngantri? bisa ajah...
klu bisa mengerjakan beberapa hal dalam satu wkt kenapa tidak?
kan ada pepatah tuh: Sekali merengkuh dayung...dua tiga hari capeknya ndak ilang2.." :-P
notnot9 wrote on Feb 17
salut buat diajeng.......lengkap tenan, wes coro tesis....analisanya tajam terpercaya ki......:D
ihhh...kyk iklan surat kabar apa, gt...:-P
bundoetoey wrote on Feb 18
itu gambaran bahwa mental kita kan mental penjahat. Gerah rasanya kalo gak ngejahatin orang sedikit aja....
notnot9 wrote on Feb 27
itu gambaran bahwa mental kita kan mental penjahat. Gerah rasanya kalo gak ngejahatin orang sedikit aja....
masak siy, bunda...
bs diterapi gak?
bikin proposal dimasukin ke LPM, gih...;;)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help